Ikan Hiu, Predator yang Terancam Punah

Sejumlah temuan menempatkan ikan hiu sebagai predator paling mematikan di laut setelah ikan paus. Namun, pemancingan ikan yang kian agresif mengancam spesies hiu menuju kepunahan.
Sebuah studi baru mencatat temuan yang mengkhawatirkan. Sekitar 100 juta ekor ikan hiu mati setiap tahunnya.

"Menurut analisis kami, ada sekitar satu dari 15 hiu di dunia mati setiap tahun karena ulah para pemancing," kata Boris Worm, kepala peneliti sekaligus profesor biologi di Dalhousie University Canada.


"Meningkatnya permintaan terhadap sirip ikan hiu menjadikan spesies ini semakin rentan punah dari sebelumnya," jelas Worm, dikutip Livescience, Minggu 3 Maret 2013.

Berdasarkan data kematian hiu yang berhasil terkumpul, termasuk laporan perkiraan hasil tangkapan ilegal yang masuk, para peneliti memperkirakan setidaknya ada 100 juta hiu yang dibantai pada tahun 2000. Dan, jumlahnya tidak kunjung menurun, karena di tahun 2010, diketahui sekitar 97 juta ekor hiu dibunuh.

Tapi, karena jumlah data tepat terkait jumlah hiu terbunuh masih simpang siur, menurut para peneliti, kematian hiu bisa jadi berkisar 63 juta hingga 273 juta ekor dalam setahun. Sungguh ironis.

Selama ini, ikan hiu diburu karena memang banyak peminat, baik untuk dagingnya, minyak hati, tulang rawan, dan sirip yang seringkali dipotong dari ikan hiu yang masih hidup.
Sirip ini lazim digunakan dalam sup sirip hiu. Menu ini menjadi andalan yang lezat dan menarik di Asia Timur. Bahkan, di Australia, tepatnya Victoria, hiu sudah menjadi santapan sehari-hari, baik disajikan dalam bentuk ikan bakar atau keripik.

Namun, kelezatan ikan hiu nyatanya tidak dibarengi keseimbangan ekosistem laut. Pertumbuhan yang lamban karena tingkat reproduksinya yang rendah, membuat hiu sulit mempertahankan populasi spesiesnya. Dan, sang pemangsa laut ini diperkirakan akan sangat sulit untuk mengembalikan keadaan seperti semula.

Dalam studi yang sudah diterbitkan online di jurnal Marine Policy, para peneliti yang juga komunitas pemerhati alam menuturkan, populasi hiu yang menipis sudah masuk tahap memprihatinkan, karena sebagai predator paling atas, hiu membantu keseimbangan ekosistem laut dunia.

Sirip ikan hiu yang sedang dijemur di Kaohsiung, Taiwan.

Pada tanggal 3 Maret 2013, ratusan delegasi dari 177 negara di dunia akan turun ke Bangkok untuk menghadiri pertemuan Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah, atau Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Dalam agenda tersebut, proteksi perdagangan terhadap lima spesies ikan hiu akan digaungkan, termasuk jenis hiu putih samudera, porbeagle, dan tiga jenis hiu martil(hammerhead), yang kerap diburu untuk diambil siripnya.

"Cukup menyumbangkan suara 'setuju' untuk mengembalikan keadaan, mempertahankan spesies hiu yang kini terancam punah di dunia," ujar Elizabeth Wilson, manajer konservasi hiu global di organisasi lingkungan hidup Pew Charitable Trust.

"Negara-negara peserta harus memanfaatkan kesempatan ini untuk melindungi predator puncak dari kepunahan," tegasnya.

sumber : teknologi.news.viva.co.id